Saturday, April 04, 2015

Sekjen UMMATI 1431 H : Sebuah Perjalanan Penuh Hikmah Bersama UMMATI

Sekjen UMMATI 1431 H : Sebuah Perjalanan Penuh Hikmah Bersama UMMATI

Assalamu’alaikum wr.wb.
               Segala puji bagi Allah yang masih memberikan tangan dan akal ini untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Mu (khususnya nikmat Iman dan Islam yang menurut penulis tiada duanya di dunia ini) melalui tulisan ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan untuk Baginda Rasulullah SAW, keluarganya, sahabatnya serta pengikutnya hingga akhir zaman, semoga kita mendapat syafa’atnya nanti di Hari Akhir melalui kesetiaan akan ajaran Islam yang dibawa Rasulullah SAW.
               Diawali dengan basmalah, semoga dengan cerita ini dapat memberikan pencerahan kepada semua. Walaupun sedikit, namun semoga bermanfaat. Pada awal 2010 atau tahun 1431 H, Ketua UMMATI, Johar Triono, membentuk Tim DF (Dewan Formatur) yang bertujuan membentuk kepengurusan UMMATI yang baru. Penulis termasuk di dalam anggota tersebut, sampai pada saat pemilihan PH, penulis mengucap istighfar karena diamanahkan menjadi Sekjen UMMATI. Penulis membayangkan bahwa amanah ini berat dan tidak main-main. Walapun demikian, penulis percaya bahwa takdir Allah adalah yang terbaik.
               Saat menjabat Sekjen, penulis memiliki 7 job description :
1.         Mengkoordinasikan seluruh Departemen & 1 BSO
2.         Pengganti Ketua jika Ketua berhalangan
3.         Koordinasi dengan Kerumahtanggaan (Bendum, Sekum, dan PSDM) dan Urusan Kemuslimahan
4.         Motivator kerja bagi pengurus UMMATI (termasuk SMS MOVIE atau Motivasi Islami dan Empati)
5.         Membantu Ketua dalam pengambilan kebijakan strategis
6.         Update info Kajian dan Kondisi Islam
7.         Membantu PSDM dalam penjagaan, pemberdayaan , dan pengkaryaan kader.
               Pada awal kepengurusan, sempat terjadi perbedaan pemahaman antara penulis dan Ketua yang belum sejalan dalam mengelola UMMATI. Sempat hubungan kami agak renggang, namun dengan izin Allah kami berdamai dan kembali berjuang bersama membangun UMMATI dan menebar dakwah.
                Seperti kita ketahui, jalan dakwah dan tugas manajerial bukanlah dua hal yang mudah. Di jalan dakwah, kita harus berani ber-amar makruf nahi munkar (menyeru kebaikan dan mencegah keburukan), tentunya dengan cara yang ihsan dan lembut, bukan sebaliknya, amar munkar nahi makruf (menyeru keburukan dan mencegah kebaikan), atau ada istilah yang kelihatan sepele namun lebih berbahaya : amar makruf nyambi munkar (menyeru kebaikan sambil melakukan keburukan). Na’udzubillahi min dzalik. Menurut pendapat penulis, sebenarnya PDEB SV adalah ladang dakwah yang luar biasa. Mengapa begitu? Karena sebagian lingkungan PDEB SV ternyata terlihat sangat membutuhkan pencerahan spiritual agar dapat membuat Allah kembali tersenyum dan tidak membuat Allah merasa “cemburu” karena mereka –mungkin juga kita-  berusaha mengesampingkan Allah secara tidak sadar. Beberapa tahun belakangan ini bisa kita lihat budaya di PDEB SV yang masih belum kondusif menjadi tantangan UMMATI ke depan untuk dapat memperbaiki lingkungan tersebut ke arah yang lebih baik, tentunya dengan proses tadarruj (bertahap), tidak frontal dan tidak memaksakan untuk terjadi secara seketika, sebagaimana dakwah yang dahulu dilakukan Rasulullah.       
               Salah satu strategi dakwah yang cukup efektif, yaitu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain -tentunya dalam aspek-aspek positif- seperti yang disabdakan Rasullullah bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Jadilah orang yang memberi manfaat sesuai kemampuan kita pada objek dakwah kita, baik dengan bantuan materiil maupun non-materiil, dalam akademik maupun non-akademik, dan sebagainya. Kita dapat mengambil peran sebagai ketua kelas dalam suatu mata kuliah untuk membantu teman sekelas kita dan menyisipkan dakwah di dalamnya, mengajari teman yang mengalami kesulitan dalam suatu mata kuliah, menolong teman yang sedang dilanda masalah, entah masalah finansial, masalah akademis, ataupun masalah pribadi (masalah pribadi sebaiknya jika diminta). Lalu, jadilah teladan! Abdullah bin Mas’ud r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jangan berharap sama seperti orang lain kecuali dalam dua hal. (Pertama), seseorang yang diberi kekayaan oleh Allah dan ia membelanjakannya dengan benar (sesuai dengan yang diperintahkan Allah), (Kedua) orang yang diberi kebijaksanaan oleh Allah (seperti pengetahuan tentang Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW) dan ia berperilaku sesuai dengan kebijaksanaan tersebut dan ia mengajarkannya pula kepada orang lain.”(Shahih al-Bukhari No. 73) Pribadi yang memiliki teladan dan bermanfaat bagi orang lain, Insya Allah akan menjadi pribadi yang dapat mensyiarkan Islam dengan lebih baik -tentunya dengan didasari niat Lillahi Ta’ala- , bebas dari niat-niat buruk, apakah hanya untuk mendekati orang yang disukai, menyisipkan kepentingan-kepentingan tertentu(yang berdampak negatif), dan lain-lain. Terakhir, mengenai strategi bergaul sekaligus berdakwah, Sayyidina Ali r.a. berkata, “Pergaulilah orang-orang beriman dengan hatimu, pergaulilah orang-orang rusak dengan akhlakmu.” Menurut penulis, kita bisa melakukan pendekatan secara personal atau dari hati ke hati untuk orang yang memahami Islam namun dirinya masih perlu didakwahi, kemudian untuk orang yang memang menjadi target dakwah kita coba lakukan pendekatan dengan menunjukkan teladan dan akhlak terbaik yang kita miliki, Insya Allah semoga hidayah bisa merasuk ke orang tersebut melalui kita (tetap dengan niat Lillahi Ta’ala).
               Tugas manajerial yang dijalani penulis tidaklah mudah. Mungkin banyak orang yang sekarang menginginkan jabatan, namun mereka tidak sadar bahwa laporan pertanggungjawaban mereka tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat, sehingga mereka harus mempertanggungjawabkan atas segala hal yang mereka lakukan saat memegang suatu jabatan, apakah amanah atau tidak? Adakah penyelewangan, penggelapan, atau korupsi? Penulis sangat takut jika suatu saat tidak amanah dalam menjalankan amanah ini. Maka kepada Allah-lah penulis harus senantiasa kembali.
                Di awal-awal kepengurusan, masalah SDM menjadi urgen di UMMATI, khususnya tentang kader yang mulai pasif di UMMATI, tidak jarang para Kadep menghabiskan waktu untuk memikirkan kader yang mulai “langka” keberadaannya di UMMATI. Meski bagaimanapun, semua kesalahan ataupun masalah kembali kepada diri kita, dan dahsyatnya ketika kita mau mengakui bahwa kita adalah bagian dari masalah tersebut, kita akan menemukan jalan keluar yang terkadang tidak terduga, Insya Allah. Pernah pada suatu ketika penulis mengadakan suatu acara lomba yang lumayan besar, namun karena berbagai tantangan, acara tersebut harus diundur beberapa kali, dan penulis pun sempat menyalahkan beberapa orang. Namun pada akhirnya, sebagai ketua pelaksana, penulis menyadari mengakui kesalahan penulis, bahwa penulis sendiri adalah orang yang paling bertanggungjawab atas ketidaklancaran acara tersebut. Setelah itu pertolongan Allah pun datang dan acara lomba pun dapat terlaksana meski tidak lepas dari berbagai kekurangan. Maka mulai saat ini, mari kita ber-istighfar saat menghadapi masalah, Insya Allah pertolongan Allah sangat dekat, bahkan melebihi urat leher kita. Firman Allah SWT : Maka aku katakan kepada mereka :”Mohonlah ampun kepada Tuhanmu-sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (di dalamnya pula) untukmu sungai-sungai.”(QS. Nuh ayat 10-12).
               Penulis menghadapi tantangan selanjutnya, yaitu kekompakan PH yang saat itu belum terbangun dengan baik. Rapat PH pun sering berjalan tidak efektif, ego masing-masing PH masih sangat tinggi, telat datang menjadi dua kata yang dianggap biasa, diam seribu bahasa menjadi tren dalam rapat PH sehingga hanya beberapa orang yang berani berpendapat dan berinisiatif. Penulis berpendapat bahwa suatu tim harus dimulai dengan keterbukaan dari masing-masing anggota tim, kemudian ketika anggota-anggota tim sudah terbuka dalam mengungkapkan pikirannya ataupun hal lainnya, Insya Allah komunikasi yang baik akan terjalin. Ketika komunikasi bukan lagi masalah (when communication doesn’t matter), Insya Allah koordinasi antar anggota akan terjalin dengan baik dikarenakan komunikasi yang menimbulkan kepercayaan. Pada akhirnya tim yang solid dan berkualitas tinggi akan terbangun dengan kokoh. Namun itu semua melalui proses yang berkesinambungan, sehingga kita hendaknya bersabar ketika ingin membangun sebuah tim yang ideal. Akhirnya, PH UMMATI menemukan kekompakannya dan kedekatan antar anggota PH menjelang berakhirnya kepengurusan 1431 H (Semoga kekompakan PH selanjutnya sudah terbentuk sejak awal kepengurusan). Kemudian berkaitan dengan Kajian dan TOTI (Mentoring Ummati), dua hal ini seharusnya menjadi urgensi UMMATI dalam syiar eksternal maupun internal UMMATI. Kajian harus dibuat bukan hanya sebagai program kerja UMMATI, namun lebih dari itu Kajian dapat dibuat sebagai kebutuhan mahasiswa PDEB SV, sesekali Kajian (direkomendasikan untuk Kajian Ikhwan) dapat diadakan di luar Mushola Abu Ubaid, apakah di depan ruang sidang, di depan Lab MYOB, di parkiran, atau di selasar. Untuk Kajian Umum, mungkin bisa menyesuaikan dengan tetap menggunakan hijab.Kreativitas tim pelaksana kajian diperlukan dalam hal ini. Setelah ikhtiar maksimal untuk Kajian UMMATI, barulah tawakal kepada Allah. Penulis berharap para pelaksana Kajian-Kajian di UMMATI lebih kreatif lagi dalam menarik massa dan mempublikasikan acaranya. Tambahan, untuk para Ikhwan maupun Akhwat, mengaji di tempat Pak Irfan Nursasmita (Pembina UMMATI) adalah budaya yang sedang dibangun , dijalankan, dan seharusnya di-istiqomah-kan. Di sana, kita dapat menanyakan berbagai pertanyaan agama dan seputar kehidupan sehari-hari, yang Insya Allah akan menambah ilmu dan pengetahuan kita dalam berdakwah dan belajar agama Islam. Begitupun dengan TOTI (Mentoring UMMATI), yang terkadang tidak berjalan tidak efektif dikarenakan berbagai faktor, baik waktu, murabbi maupun mutarabbi-nya. Penulis berani mengubah nama Kepemanduan UMMATI menjadi TOTI (Mentoring UMMATI) karena sudah saatnya adik-adik angkatan kita merasakan mentoring sebagai suatu kebutuhan untuk sharing, mengungkapkan gagasan, pemikiran, curhatan, bahkan hal-hal lucu namun tidak kelewat batas, tentunya dengan tetap mengindahkan syari’at Islam. Dalam hal ini, mentoring tidak lagi menjadi sebuah hal yang kaku, karena memang konteksnya adalah lembaga, namun dengan kurikulum yang konsisten. Penulis merasakan mentoring telah banyak memberi banyak manfaat, khususnya pada diri penulis, bukan hanya untuk murabbi, namun juga mutarabbi. Ide-ide baru, penyelesaian masalah bersama-sama, kedekatan emosional, tambahan ilmu dan wawasan, dan knowledge and value transfer (transfer pengetahuan dan nilai) adalah contoh-contohnya.
               Sesungguhnya penulis bukanlah motivator, namun karena salah satu job desc penulis adalah sebagai motivator kerja di UMMATI, maka penulis jalankan dengan kemampuan terbaik penulis. Kesalahan penulis dalam memotivasi pengurus adalah keterlibatan penulis dalam hal teknis. Terkadang penulis ikut dalam pekerjaan teknis dikarenakan sistem UMMATI yang belum baik dalam pelaksanaan acara, maka penulis berharap tahun selanjutnya standar pelaksanaan Proker dapat dibuat. Dalam menjalankan tugas, penulis coba melakukan beberapa hal, diantaranya pendekatan personal ke pengurus, silaturahim ke kos atau rumah beberapa pengurus, dan mengirim SMS penyemangat ke teman-teman pengurus. Namun, penulis ternyata belum bisa menunjukkan bentuk kepedulian terhadap perkembangan kader akhwat. Semoga Sekjen selanjutnya (jika masih ada dalam struktur) dapat lebih care and concern terhadap akhwat.
               Perlu diingat, Sekjen adalah orang punya perhatian lebih terhadap kerumahtanggaan organisasi. Maka Sekjen perlu berkoordinasi intensif dengan Bendahara, Sekretaris, dan PSDM dalam pelaksanaan job desc dan program kerja ketiga pihak tersebut. Sekjen perlu melihat apakah sistem yang dijalankan ketiga pihak tersebut (baik sistem kesekretariatan, sistem keuangan, dan sistem pengelolaan SDM) sudah baik atau masih perlu perbaikan. Ketiga pihak tersebut pun tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Koordinasi yang baik antara ketiganya akan semakin memajukan internal organisasi yang akhirnya akan membuat UMMATI menjadi organisasi yang dewasa dan mapan (mature and established).
               Perjalanan penuh hikmah pasti menemui penghujungnya, begitu juga dengan kepengurusan 1431 H yang telah berakhir, dan saatnya adik-adik UMMATI angkatan 2009 dan 2010 yang menjadi orang-orang yang  Insya Allah mampu membawa perubahan dan kemajuan yang lebih baik untuk UMMATI. Noone irreplaceable (tiada seorangpun yang tak tergantikan), begitulah UMMATI. Setiap tahun UMMATI selalu melahirkan insan-insan terbaik, seperti Mas Septo yang sekarang bekerja di Pelni, Mba Iffah dan Mba Pramitra yang melanjutkan studi di UNAIR, Mas Deny yang menjadi Entrepeneur muda, Mas Santo yang bekerja di Pertamina, Mba Nisa yang terus menebarkan dakwah tanpa lelah, dan alumni-alumni lain yang Insya Allah sedang menuju kesuksesan atau sudah sukses. Begitulah ketika kita ikhlas menolong agama Allah (salah satunya melalui UMMATI), maka tak ada yang sulit bagi Allah untuk kita. Untuk the next Sekjen, penulis berpesan melalui sebuah perkataan seorang alim, Muhammad bin Wasi’ : “Nasihat yang keluar dari hati yang bersih, pasti meresap ke dalam hati. Sebaliknya tanpa kebersihan hati, nasihat hanya sekedar retorika dan tak punya dampak apa-apa.” Pesan untuk sahabat-sahabatku semua di UMMATI :”Jauhi fitnah, pererat ukhuwah, berikan manfaat, tebarkan manfaat dan maslahat, hindari syubhat, jadilah teladan, datangi pengajian, perkuat kepribadian, berkata baiklah pada teman, jadilah mentor untuk adik-adik angkatan, dan jangan lupakan kakak-kakak  angkatanmu, Kawan! ^_^
Afwan atas segala kesalahan kata dan laku yang pernah penulis lakukan.
Wallahu’alam bisshowab
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Dedicated To :
Allah SWT, Rasulullah SAW, keluargaku, Johar Triono, Nimas Arif Yustiana, Dinar Pratiwi, Rosi Iswati, Sri Rahayu, Rezky Wulan Ramadhanty, Ety Juni Astuti, Nurvita Budi Rovani, Ibnu Harsono, Selvy Anggiasari, Joko Puji Leksono, serta sahabat-sahabat terbaik UMMATI angkatan 2008, angkatan 2009, dan angkatan 2010 yang tidak mampu saya sebutkan satu per satu.

                                                                                                Yogyakarta, 20 Januari 2011
                                                                                               
                                                                                                            Sahabatmu,


                                                                                             

                                                                                                    Septian Dwi Purwanto
Post a Comment